Jumat, 20 Oktober 2017

RENTAL FORTUNER SZ


Rental Mobil Srz




Rental Mobil Batam / Sewa Mobil di Batam dengan harga murah, Tlp 085374695533  Wa : 085374695533 dapatkan pelayanan memuaskan dengan kenyamanan mobil yang kami sediakan.

Rp. 1.500,000

- Mobil Innova
- Maximal 12 jam
- Termasuk BBM + Parkir + Driver

Sabtu, 30 September 2017

Patung Kwan Im


Salah satu destinasi wisata religi di Pulau Batam adalah patung Dewi Kwan Im yang berlokasi di KTM Resort Tanjungpinggir, Sekupang. Selain sebagai tempat ibadah bagi umat Budha, patung Dewi Kwan Im ini telah menjadi salah satu magnet pariwisata di Kota Batam. Keberadaan patung setinggi lebih kurang 26 meter tersebut semakin menyempurnakan keindahan KTM Resort yang menghadap langsung ke Singapura tersebut.

Patung Dewi Kwan Im, KTM Resort Batam


Pengunjung KTM Resort dan orang yang sembahyang di Patung Dewi Kwan Im Tanjungpinggir ini tidak hanya dari Batam dan kota lain di tanah air tapi juga dari negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Cina dan lainnya. Bahkan pengunjung pada hari-hari tertentu di dominasi oleh turis mancanegara. 

Pada hari-hari tertentu, patung Dewi Kwan Im menjadi salah satu pusat etnis Tionghoa untuk melakukan sembahyang. Yang biasanya dilaksanakan setiap bulan 2, 6 dan 9 penanggalan kalender Cina. Atau sekitar bulan Maret, Juli dan Oktober.

Tidak hanya warga Batam dan sekitarnya, pesona patung Dewi Kwan Im juga menarik kunjungan warga Jakarta ataupun negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Kedatangannya terkadang juga membawa serta keluarga dan anak-anak untuk memberikan persembahan seperti buah apel, jeruk mandarin, kue dan air berkah yang diharapkan dapat berdampak pada kelancaran rezeki keluarga.

Sebagai tempat sembahyang, di sekitar lokasi patung Dewi Kwan Im juga terdapat vihara dan klenteng. Tempat ini biasa juga ramai pengunjung saat perayaan Imlek atau tahun baru Cina.

Sebagaimana pada perayaan Imlek tahun-tahun lalu, vihara dan klenteng di dekat patung Dewi Kwan Im KTM Resort ini menjadi salah satu tempat melakukan sembahyang etnis Tionghoa beragama Budha. Selain beribadah, momen ini juga menjadi perjalanan wisata yang terdapat di area KTM Resort. Berbagai sajian berupa jeruk, kue keranjang, dan dupa diletakan di depan patung Dewi Kwan Im. Satu-persatu mereka bergantian melakukan ritual atau sembahyang di depan patung tersebut. 

Patung Dewi Kwan Im ini dicatat dalam rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), 5 November 2008 sebagai patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia. Patung dengan tinggi 22,37 meter dan berat 112 ton ini, tingginya melebihi patung Dewi Kwan Im yang telah ada sebelumnya di Pematang Siantar, Sumatera Utara setinggi 19,8 meter.

Patung yang terbuat dari rangka beton yang dicor dan pembuatannya menghabiskan waktu delapan bulan tersebut, dicatat dalam piagam nomor 3959/MURI/IX/2008. Piagam diserahkan oleh manager MURI, J. Ngadri kepada pemilik KTM resort, Koh Tiet Meng. 

Vihara Budha Meitreya




Maha Vihara Duta Maitreya di mana terletak di Sei Panas, Kota Batam adalah kuil terbesar di Asia Tenggara. Dengan lahan seluas 4,5 hektar, Vihara Duta Maitreya dibangun pada tahun 1991. Seperti namanya, candi ini memiliki nilai religius yang sangat kuat bagi umat Buddha.

Maha Vihara Duta Maitreya, Batam

Masjid Raya Agung Batam


Masjid Agung Batam menjadi salah satu tujuan favorit dari 1 day batam tour Nada Rent Car. Yuk kia simak sekilas info mengenai Masjid Agung Batam.

Dari kejauhan, terlihat cahaya kuning menerangi bangunan beratap limas. Di sebelahnya, terlihat juga bangunan jangkung berbentuk kotak, memendarkan cahaya yang sama. Kedua bangunan itu merupakan tampilan Masjid Agung Batam [dulu Masjid Raya Batam] kala malam tiba. Keduanya adalah bangunan masjid dan menara. Masjid ini tak jauh dari pelabuhan internasional Batam Center, gerbang menuju Singapura.

Masjid Agung Batam, Kepri

Kini, masjid Agung Batam tak sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim. Bagi warga Batam, masjid itu ialah ikon sekaligus destinasi wisata kota industri di Kepulauan Riau. Perancangnya adalah Ir Achmad Noe'man, pria yang mendapat julukan Arsitek Seribu Masjid. Karyanya yang terkenal, di antaranya, adalah Masjid Salman ITB, Masjid At-Tien di Taman Mini Jakarta, dan Masjid Raya Bosnia. Dalam masjid ini, Noe'man menyuguhkan sebuah pengayaan terhadap desain Masjid Demak yang memiliki atap limas bertumpang tiga. Ia menghadirkan tiga irisan vertikal pada atap limas itu. Selain itu, atap limas di masjid ini tak terlihat bertumpuk layaknya desain di Masjid Agung Demak. 

Faizal Muzamil, seorang kontraktor pembuat kubah masjid, dalam tulisannya memberikan penjelasan makna yang ada pada Masjid Agung Batam. Ia menulis, bangunan masjid ini dirancang dari penggabungan dua bentuk dasar, yakni bentuk balok bujur sangkar sebagai badan bangunan dan limas sama sisi yang teriris tiga bagian sebagai kepala bangunan. Bentuk limas ini, kata Faizal, memiliki persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas. 

Dalam filosofi Masjid Demak, atap limas dengan tiga tumpuk itu menyajikan makna tiga bagian yang berarti iman, Islam, dan ihsan. Adapun irisan tiga bagian, lanjutnya kembali, adalah manifestasi perjalanan hidup manusia dalam tiga alam, yakni alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat. “Makna lainnya dari bentuk limas ini menyimbolkan juga hubungan manusia dan pencipta,” jelasnya. Kaya komposisi dan detail Lebih jauh, bentuk eksplorasi lain masjid ini dari desain Masjid Agung Demak tersaji pada bagian interior. 

Masjid ini tak memiliki tiang soko guru layaknya masjid tertua di Indonesia itu. Kesan yang hadir adalah suasana lapang pada bagian dalam masjid ini. Ruangan utama pada bagian interior ini menjadi tempat shalat. Luas ruangan ini secara keseluruhan adalah 2.515 meter persegi. Daya tampung bisa mencapai 3.500 jamaah. Jumlah ini masih bisa bertambah hingga 15.000 jamaah dengan hadirnya plaza di bagian luar masjid. Pada bagian plaza ini tampak penyelesaian (finishing) bangunan yang begitu detail. Di antaranya terlihat dari pola paving block yang disusun sedemikian rupa menggunakan modul standar untuk orang shalat. Alhasil, susunan-susunan paving block itu dapat difungsikan sebagai garis-garis saf pada saat shalat berjamaah. Secara keseluruhan, bentuk dan ornamen yang tersaji di masjid ini sungguh kaya dengan komposisi bentuk dan garis geometris. Paduan desain itu melahirkan bentuk yang tegas namun terjaga keseimbangan dan harmonisasinya. 

Bahkan, Faizal menyebut pada bagian ruangan interior itu begitu tersaji sebuah kekayaan nilai arsitektural yang tinggi dengan sentuhan estetika dan karya seni. “Itu terlihat mulai dari seni kaligrafi, lampu gantung, lampu hias, hingga beraneka ragam hias lainnya,” jelasnya. Untuk seni kaligrafi ini dapat dilihat pada bagian bawah kuncup atap yang terbuat dari bahan material tembaga. Kaligrafi di bagian itu bertuliskan surah Al-Baqarah ayat 153, Al-A'raf ayat 55, Thaha ayat 14, dan Al-An'am ayat 162. Seni khas Timur Tengah ini juga terdapat di bagian dinding mihrab di antara kolom. Di sana terpahat surah An-Nisa ayat 103 dan Al-Mu'minun ayat 2. Pahatan seni kaligrafi ini juga dapat ditemukan di bagian interior sebelah utara dan selatan. Di bagian ini terdapat sapuan kaligrafi 99 sifat Allah yang dikenal sebagai Asmaul Husna. Selain di tempat tersebut, Asmaul Husna juga terdapat di bidang barat dalam bentuk kaligrafi kaca patri sebagai pengisi jendela segi delapan dan ornamen di atas mihrab. Lantas paduan seni estetika dan nilai fungsi juga diterapkan pada penggunaan lampu gantung hias yang terbuat dari tembaga. Lampu hias ini berjumlah empat unit yang terdiri dari 48 titik lampu pada setiap unitnya. Di sini mencuat adanya kesan kokoh. “Tetapi, juga keindahan tetap terpancar dari lampu yang bentuknya mengacu pada bentuk esensi masjid tersebut,” jelas Faizal.

Masjid Agung Batam [pada malam hari]

Mimbar Masjid Agung Batam
Bentuk yang mengacu pada bentuk dasar masjid juga terlihat pada bagian mimbar. Bagian mimbar ini terbuat dari kayu dengan ornamen tembaga. Mimbar ini memiliki tiga buah undakan dengan bentuk kerucut terbalik. Mimbar ini berada di dalam bagian mihrab masjid.

masjid agung batam, kepri
Mimbar Masjid Agung Batam, Kepri

Tak seperti masjid-masjid modern masa kini, mihrab pada Masjid Agung Batam ini tidak dihadirkan terlalu njelimet. Dalam artian, mihrab masjid ini hanya ditandai dengan bentuk segitiga yang meruncing sebagai penghias bagian atasnya. Ruang mihrab masjid ini juga tak terlalu luas.

Menara Masjid Agung Batam


tower masjid agung batam
Menara Masjid Agung Batam
Sementara itu, untuk bentuk menara, Masjid Agung Batam ini memiliki bentuk ruang segi empat. Tinggi menara ini 66 meter. Di sini, desain menaranya tidak melakukan paduan bentuk ruang seperti beberapa menara masjid ala Timur Tengah maupun Eropa. Bentuk segi empat ini dari menara masjid ini mengingatkan juga pada bentuk Jam Gadang di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Kemiripan bentuk itu terlihat pada bagian topi-topi yang berbentuk segitiga menjorok ke luar. Lalu, di bagian puncak menara juga terdapat semacam balkon yang juga mirip seperti Jam Gadang Bukit Tinggi.

Perubahan Nama "Raya" menjadi  "Agung"
Bangunan yang kini dikenal sebagai Masjid Raya Batam sesungguhnya adalah hasil pergantian nama yang dilakukan pada Juli 2010. Nama awalnya adalah Masjid Raya Batam. Aturan pergantian nama ini ditetapkan Kementerian Agama lalu diperkuat lagi lewat Surat Keputusan (SK) Walikota Batam. Mengutip keterangan Yusfa Hendri, kepala bagian Humas Pemerintah Kota Batam, pergantian nama ini disesuaikan dengan sistem wilayah untuk sebuah masjid. "Untuk kabupaten dan kota, sebuah masjid diubah namanya dan statusnya menjadi masjid agung. Sedangkan untuk masjid provinsi disebut sebagai masjid raya," demikian Hendri menjelaskan sebagaimana tertulis di laman resmi Masjid Raya Batam. Masjid dengan luas bangunan sekitar lima ribu meter persegi ini berada di atas tanah seluas 75.000 meter persegi. Masjid ini tercatat sebagai yang terbesar di Kota Batam. Sebagai ikon kota, masjid ini memainkan pula perannya sebagai pusat bagi aktivitas pembinaan kerohanian yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

Selasa, 14 Oktober 2014